CRACKING ZONE
Yap, setelah lama gak ngupdate blog karena dilanda aktivitas membuat Tugas Akhir sebagai mahasiswa, akhirnya saya sempatkan lagi menulis di blog ini. Materinya tentang Buku Cracking Zone?wah, kayak mau ngasih ceramah aja. Nah, Buku ini merupakan buku yang masih belum selesai saya baca, karena lembar demi lembarnya sangat sarat dengan sebuah momen-momen perubahan yang melanda Indonesia khususnya bagaimana memetakan perubahan di abad 21 untuk keluar dari perangkap comfort zone. Dalam buku ini dibahas bahwa saat ini terjadi fenomena besar-besaran dimana peta industri di Indonesia telah berubah. Boleh saya katakan bahwa secara langsung kita telah dihempas oleh atmosfer gelombang baru yang dinamakan “TEKNOLOGI”. Siapa yang tidak tahu facebook?siapa yang belum punya akun twitter? dan pastinya siapa yang tidak punya handphone? Kalau itu mah saudara saya yang masih SD sudah bawa BlackBerry.Yah, itulah salah satu gejala-gejala bahwa secara tidak langsung kehidupan ini sudah dipermudah dengan adanya teknologi. Kalau ada yang cepat, mudah, dan murah, why not? Inilah gambaran hanya secuil fenomena yang dibahas di buku ini.
Lebih lanjut, terdapat istilah “cracker” dimana dalam halaman 43 di buku ini dibahas bahwa Crackers adalah orang yang memperbaharui industri. Dia bukan sekedar leader yang melakukan transformasi. jadi wajar bila dia disegani (dimusuhi dan dicemburui) oleh kompetitor-kompetitornya. Sementara di dalam perusahannya, dia juga ditakuti oleh kelompok yang ingin tetap mempertahankan kondisi comfort zone. Crackers bekerja lebih berat dari rata-rata leaders karena dia membongka tradisi industri dan persaingan. Oleh karena itu, mari kita lanjutkan pembahasan ke empat indikator yang menandai adanya Cracking zone di Indonesia.
1. Industri dikuasai oleh tiga atau empat pemain besar yang mengunci pasar dengan kekuatan oligopolisnya.
2. Ada kebutuhan transformatif yang ditandai dengan perubahan peta kekuatan pada salah satu pemain uama (atau pendatang baru). Perubahan peta kekuatan itu antara lain ditandai dengan kegiatan seperti:Reinvestasi atau perluasan kapasitas keberanian merekrut CEO baru dengan reward diatas rata-rata industri atau pembongkaran cara kerja organisasi pada salah satu pelaku.
3. Adaya kapabilitas baru yang dimiliki salah satu pelaku yang ditandai dengan akumulasi harta-harta tidak kelihatan seperti teknologi, pengetahuan, atau sistem manajemen.
4. Terdapat gejala-gejala ekonomi yang ditunjukkan dengan perubahan-perubahan indikator pasar seperti populasi penduduk, pendapatan per kapita, teknologi rumah tangga, pengalihan kekuatan (sperti otonomi daerah), perubahan alokasi, pendapatan, dan perubahan perilaku konsumen yang menjadi pemicu cracking…
Wah, kalau mau membahas secara lebih komprehensif saya sendiri juga sangat banyak bisa membayangkan betapa saat ini telah terjadi perubahan-perubahan radikal. Adanya kegiatan FREEMIUM, dimana sekarang masyarakat lebih menyukai produk-produk berkualitas premium tetapi dengan harga yang hampir gratis atau bahkan gratis. Apakah anda menggunakan fasilitas facebook untuk chatting, add friend, berkomentar dimintai biaya? apakah Anda membuat email dan menggunakan layanan hebat dari google diminta untuk membayar? hampir semuanya kita bisa memanfaatkan dan mengeksplorasi dengan sesuka kita. Inilah Crackers baru yang ada di dunia maupun di Indonesia. Bagi mahasiswa seperti saya yang nanti mau menghadapi persaingan yang semakin panas ini ketika sudah lulus. Sudah pasti membaca buku ini kita bisa memetakan dan mengetahui bahwa saat ini kita sudah berada di stage mana. Harus tau itu? makanya, sebagai wahana untuk menambah khasanah keilmuan kita, buku ini saya rekomendasika bagi pembaca blog saya untuk membaca buku bagus yang berjudul “CRACKING ZONE”. Jadilah agen perubahan sekarang juga? Bergerak atau tergantikan…….
Salam Perubahan…
Popularity: 5% [?]
No related posts.





